Monday, May 27, 2019
Home Fakta Menarik Dampak perubahan iklim terhadap kontaminasi mikotoksin pada makanan dan pakan

Dampak perubahan iklim terhadap kontaminasi mikotoksin pada makanan dan pakan

- posted on

views, and

comment(s)

Advertisement

Perubahan iklim telah dilaporkan sebagai pendorong timbulnya masalah keamanan pangan dan pakan di seluruh dunia. Salah satu dampak yang perubahan iklim adalah potensi kontaminasi mikotoksin dalam makanan dan pakan yang saat ini telah menjadi perhatian besar. Metabolit jamur ini adalah penyebab penting toksisitas kronis dari paparan melalui makanan; khususnya, aflatoksin, yang memiliki toksisitas akut dan kronis tertinggi dari semua mikotoksin ​[1]​. Karena tingkat toksisitasnya yang tinggi, konsentrasi maksimal aflatoksin dalam produk pangan dan pakan pertanian dan komoditasnya telah diatur di seluruh dunia, misalnya di negara-negara Eropa (Commission Regulation EU/574/2011, 2006/1881/EC and amendments). Oleh karenanya, perlu adanya tindakan antisipasi untuk mencegah terjadinya kontaminasi aflatoksin pada makanan dan pakan yang sekaligus untu mencegah terjadinya keracunan makanan.

Seperti yang disebutkan diawal, mikotoksin yang paling beracun adalah aflatoksin, yang dapat ditemui pada tanaman inang yang terinfeksi oleh beberapa spesies Aspergillus. Aflatoksin adalah zat genotoksik, karsinogenik dan imunosupresif, dan menyebabkan toksisitas akut dan kronis. Masalah kesehatan terkait sulit didiagnosis, terutama karena paparan yang samar, jangka panjang dan kronis. Namun, seperti yang baru-baru ini ditunjukkan dan diakui oleh pemerintah Kenya, pada tahun 2004 dan 2005, ratusan kasus kematian manusia dapat dianggap berasal dari konsumsi produk jagung yang terkontaminasi aflatoksin ​[2]​.

Aflatoksin dilaporkan dapat ditemui dalam beberapa tanaman pertanian, terutama jagung, kacang tanah, kacang pistachio, dan biji kapas. Aspergillus flavus, jamur utama yang menghasilkan aflatoksin, beradaptasi dengan baik terhadap kondisi cuaca hangat dan kering. Tanaman dari daerah tropis dan/atau sub-tropis lebih sering bahkan lebih parah terkontaminasi oleh aflatoksin. Meskipun demikian, daerah lain pun yang mugnin tidak terlalu kering juga menjadi perhatian karena perubahan iklim.

Advertisement

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Battilani, dkk (2016) yang meneliti kontaminasi aflatoksin pada tanaman jagung dan gandum dengan menggunakan pendekatan pemodelan dalam skenario perubahan iklim +2 °C dan +5 °C dalam rentang waktu 100 tahun ke depan ​[3]​. Peneltian dini ditujukan pada daerah di negara-negara Eropa. Penelitian mereka menemukan bahwa Aflatoxin B1 diprediksi akan menjadi masalah keamanan pangan pada jagung di Eropa oleh karena perubahan iklim. Dalam rentang waktu 100 tahun kedepan, jumlah aflatoksin dapat meningkat masing-masing sebesar 92% dan 149% dari kondisi saat ini berdasarkan skenario iklim +2 °C dan +5 °C. Hasil ini memberi informasi terutama kepada pelaku bisnis jagung dan gandung, juga kepada pengambil kebijakan untuk terus memperkuat manajemen aflatoksin dan untuk mencegah paparannya terhadap manusia dan hewan.

Referensi

  1. 1.
    Flores-Flores, M.E., Lizarraga, E., López de Cerain, A., and González-Peñas, E. (2015). Presence of mycotoxins in animal milk: A review. Food Control, 163–176. Available at: http://dx.doi.org/10.1016/j.foodcont.2015.01.020.
  2. 2.
    Lewis, L., Onsongo, M., Njapau, H., Schurz-Rogers, H., Luber, G., Kieszak, S., Nyamongo, J., Backer, L., Dahiye, A.M., Misore, A., et al. (2005). Aflatoxin Contamination of Commercial Maize Products during an Outbreak of Acute Aflatoxicosis in Eastern and Central Kenya. Environ Health Perspect, 1763–1767. Available at: http://dx.doi.org/10.1289/ehp.7998.
  3. 3.
    Battilani, P., Toscano, P., Van der Fels-Klerx, H.J., Moretti, A., Camardo Leggieri, M., Brera, C., Rortais, A., Goumperis, T., and Robinson, T. (2016). Aflatoxin B1 contamination in maize in Europe increases due to climate change. Sci Rep. Available at: http://dx.doi.org/10.1038/srep24328.
Advertisement
Nodali Ndrahahttps://www.nodali.com/
Lahir di Sisobalauru, Indonesia. Aktif dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.

Artikel terkini

Informasi pilihan editor