Monday, May 27, 2019
Home Fakta Menarik Dampak program pertanian pada peningkatan status gizi belum terbukti

Dampak program pertanian pada peningkatan status gizi belum terbukti

- posted on

views, and

comment(s)

Advertisement

Gizi buruk masih menjadi topik hangat sekaligus memprihatinkan karena penanggulangan dan pengurangan resikonya masih sangat minim. Kasus yang masih ramai dibicarakan adalah ditemukannya korban gi buruk di Asmat, Provinsi Papua Barat. Padahal, dana yang dikucurkan untuk mencegah peristiwa ini mencapai Rp 8 triliun. Sayang sekali, hasilnya masih jauh dari yang diharapkan. Berbagai peristiwa lain yang serupa juga telah diberitakan sebelumnya, namun tetap saja, berita tersebut berlalu begitu saja. Tampaknya, keseriusan penanggulangan masalah ini belum ditemukan titik terangnya.

Salah satu hal yang menarik adalah banyaknya program pengurangan resiko gizi buruk di Indonesia, dan bahkan juga sering sekali dilaksanakan diberbagai belahan dunia. Sebut saja, program pertanian yang sering sekali dipandang sebagai salah satu program untuk menjawab permasalah gizi buruk. Namun, seperti apakah hasil penelitian tentang dampak program pertanian pada pada peningkatan status gizi? Belum terbukti hasilnya!

[wpsm_ads1]

Advertisement

Menurut hasil evaluasi yang dilakukan oleh Ruel, dkk, (2013) disebutkan bahwa program pertanian yang ditargetkan dapat mengurangi dampak gizi buruk dengan mendukung mata pencaharian, meningkatkan akses terhadap beragam makanan pada penduduk miskin, dan mendorong pemberdayaan perempuan. Namun, bukti efek nutrisi dari program pertanian tidak dapat disimpulkan alias belum terbukti. Satu-satunya program yang memberikan hasil terukur adalah program vitamin A dari biofortifikasi ubi jalar.

Lebih lanjut, menurut penelitian Ruel, dkk, (2013) ini, disebutkan bahwa justru program pendidikan orang tua terhadap gizi sangat terkait dengan peningkatan status gizi anak. Namun, perlu digarisbawahi bahwa munculnya berbagai program baru terkait dengan pendidikan orang tua ini perlu diuji efektivitasnya. Banyak program yang ditinjau awalnya tidak dirancang untuk memperbaiki gizi namun memiliki potensi besar untuk melakukannya.

Untuk menjawab tantangan ini, saat ini sedang maraknya program nutrisi yang diintegrasikan dalam program pertanian atau sering disebut “nutrition sensitive agriculture“. Namun, program ini masih belum dapat dipastikan hasilnya karena masih dalam tahap uji.  Bentuk dan desain programnya perlu dirancang sedemikian rupa untuk menentukan metoda yang perlu dilakukan. Salah satu cara untuk meningkatkan sensitivitas  program nutrisi dalam pertanian meliputi: perbaikan target; merangsang partisipasi berbasis kondisi setempat; dan mengoptimalkan keterlibatan dan pemberdayaan perempuan dalam mengakses nutrisi, waktu, kesehatan fisik dan mental mereka.

Sebagai contoh adalah program yang ditarget pada anak dibawah umur 2 tahun perlu untuk lebih fokus pada pembinaan orang tua dalam pengasuhan anak sekaligus mengedukasi mereka tentang pentingnya penyediaan micro-nutrient tanpa melupakan pemenuhan macro-nutrient. Untuk mencapai hal ini, program nutrisi yang diintegrasikan dalam program pertanian perlu melibatkan banyak pihak, termasuk tenaga kesehatan dan pertanian. Bahkan, tidak menutup kemungkinan untuk berkolaborasi dengan departemen lain, misalnya dinas sosial guna membangun dan membentuk jaringan pengaman sosial yang disebut dengan “social safety net program.” Masih banyak pihak lainnya yang bisa saja terlibat. Keterlibatan ini dapat ditentukan dengan melakukan asesmen guna menentukan skala prioritas sebuah aksi.

Agaknya, pekerjaan pengurangan resiko gizi buruk ini masih berat dan langkah yang perlu ditempuh masih panjang. Untuk itu, perlu sinergitas semua pihak, termasuk dukungan dari kebijakan dari pemegang keputusan. Intervensi dan program yang sensitif terhadap nutrisi di bidang pertanian, jaringan pengaman sosial, program pengembangan anak usia dini, dan pendidikan orang tua asuh memiliki potensi yang sangat besar untuk meningkatkan skala dan efektivitas intervensi khusus nutrisi. Selain itu, keamangan dan mutu pangan sering sekali terlupakan dalam program ini. Padahal, masalah gizi buruk yang terjadi sangat berkorelasi dengan keamanan pangan. Namun, lagi-lagi, masalah ini belum tersentuh oleh kebijakan dengan sudut pandang keamanan dalam penuntasan masalah gizi buruk.

[wpsm_ads1]

Referensi

  1. Cyber Media K. Ini Gambaran Menkes tentang Kondisi Korban Gizi Buruk di Asmat – Kompas.com. KOMPAS.com. http://nasional.kompas.com/read/2018/01/29/18120331/ini-gambaran-menkes-tentang-kondisi-korban-gizi-buruk-di-asmat. Published January 29, 2018. Accessed February 25, 2018.
  2. Cyber Media K. KLB Gizi Buruk di Asmat, Ketua DPR Minta Dana Otsus Papua Dikaji Ulang – Kompas.com. KOMPAS.com. http://nasional.kompas.com/read/2018/01/30/15421251/klb-gizi-buruk-di-asmat-ketua-dpr-minta-dana-otsus-papua-dikaji-ulang. Published January 30, 2018. Accessed February 25, 2018.
  3. Angka Gizi Buruk di Indonesia Masih Tinggi, Inilah Penyebabnya – Tribunnews.com. Tribunnews.com. http://www.tribunnews.com/regional/2018/01/25/angka-gizi-buruk-di-indonesia-masih-tinggi-inilah-penyebabnya. Published January 25, 2018. Accessed February 25, 2018.
  4. Gizi Buruk di Berbagai Wilayah Indonesia. Tirto.id. https://tirto.id/gizi-buruk-di-berbagai-wilayah-indonesia-cDLi. Published January 25, 2018. Accessed February 25, 2018.
  5. Hotz C, Loechl C, Lubowa A, et al. Introduction of β-Carotene–Rich Orange Sweet Potato in Rural Uganda Resulted in Increased Vitamin A Intakes among Children and Women and Improved Vitamin A Status among Children. The Journal of Nutrition. 2012;142(10):1871-1880. doi:10.3945/jn.111.151829
  6. Hotz C, Loechl C, de Brauw A, et al. A large-scale intervention to introduce orange sweet potato in rural Mozambique increases vitamin A intakes among children and women. B. 2011;108(01):163-176. doi:10.1017/s0007114511005174
  7. Ruel MT, Alderman H. Nutrition-sensitive interventions and programmes: how can they help to accelerate progress in improving maternal and child nutrition? T. 2013;382(9891):536-551. doi:10.1016/s0140-6736(13)60843-0
  8. Wesana J, De Steur H, Dora MK, Mutenyo E, Muyama L, Gellynck X. Towards nutrition sensitive agriculture. Actor readiness to reduce food and nutrient losses or wastes along the dairy value chain in Uganda. J. 2018;182:46-56. doi:10.1016/j.jclepro.2018.02.021
  9. Singh S, Fernandes M. Home-grown school feeding: promoting local production systems diversification through nutrition sensitive agriculture. F. 2018;10(1):111-119. doi:10.1007/s12571-017-0760-5

 

Advertisement
Nodali Ndrahahttps://www.nodali.com/
Lahir di Sisobalauru, Indonesia. Aktif dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.

Artikel terkini

Informasi pilihan editor