Monday, May 27, 2019
Home Fakta Menarik Kasus keracunan makanan yang sering diabaikan, salah siapa?

Kasus keracunan makanan yang sering diabaikan, salah siapa?

- posted on

views, and

comment(s)

Advertisement

Pendahuluan

Kasus keracuanan makanan atau yang sering disebut “food poisoning” yang terjadi di Indonesia menghiasi beberapa tag-line media online dan media cetak di tanah air. Terima kasih kepada reporter yang mengungkapkan informasi tentang peristiwa ini. Peristiwa yang baru saja terjadi adalah keracuanan makanan yang mengakibatkan 43 Siswa SMP Negeri 2 Tarakan yang harus dirawat di Puskesmas Karang Rejo untuk mendapatkan pertolongan pertama. Kasus lainnya adalah sebanyak 31 Warga Muarosijunjung juga mengalami keracunan makanan seusai menkonsumsi gulai pensi. Dokter setempat juga membenarkan bahwa para warga tersebut mengalami mual, muntah, mencret karena keracunan makanan.
Sebagai informasi, keracunan pangan dapat saja diakibatkan oleh makanan yang terkontaminasi oleh mikroorganisme berbahaya, makanan kadaluarsa atau makanan yang mengandung toksin berbahaya. Secara umum, gejala keracunan makanan, seperti yang disampaikan oleh Hobbs (1952) 1, diantaranya adalah: kram perut, diare, muntah, kehilangan selera makan, demam ringan, lemas, mual, dan sakit kepala.

Mengapa terjadi keracunan makanan?

Secara umum, makanan dapat terkontaminasi oleh beberapa hal berikut:
•        Tidak memasak makanan secara menyeluruh (terutama daging)
•        Penyimpanan makanan yang tidak tepat, terutama makanan yang perlu didinginkan di bawah 5°C
•        Meninggalkan makanan yang telah dimasak terlalu lama pada suhu hangat karena bakteri dapat bertumbuh dengan cepat pada suhu tersebut.
•        Pemanasan makanan yang tidak tepat pada makanan yang telah dimasak sebelumnya
•        Penyebaran bakteri dari seseorang yang sakit atau yang memiliki tangan kurang bersih
•        mengkonsumsi makanan yang telah melewati tanggal kadaluarsa
•        Penyebaran bakteri antara makanan yang terkontaminasi (cross-contamination)
Dalam skala produksi, kontaminasi makanan tersebut dapat terjadi disepanjang rantai makan tersebut. Misalnya, banyaknya prevalensi bakteri pathogen pada bahan baku, suhu penyimpanan yang tidak tepat, suhu yang tidak tepat pada saat distribusi, higienitas pengolahan, dan lain sebagainya. Oleh karenanya, penting sekali untuk mengevaluasi sumber penyebab kontaminasi makanan tersebut agar dapat mencegah keracunan makanan.

Kasus keracunan makanan yang selalu diabaikan

Contoh kejadian keracunan makanan yang disebutkan diatas adalah kejadian yang dilaporkan dalam 1 minggu terakhir. Bila ditelusuri, kejadian tersebut seakan berlalu begitu saja. Sangat jarang didengar bahwa ada follow-up dari pihak berwenang untuk mengusut tuntas kasus-kasus seperti ini. Padahal, kejadian tersebut dapat berakibat fatal hingga kematian, sayangnya, hal tersebut masih dipandang sebelah mata. Pada tahun lalu, 2017, kepala BPOM RI menegaskan pentingnya untuk mengawasi tindak pidana pada obat dan makanan. Beberapa kasus yang dipidanakan telah mendapat putusan pengadilan dengan hukuman maksimum 2,5 tahun penjara pada pelaku tindak pidana obat. Sayangnya, putusan pengadilan terhadap tindak pidana pada produk pangan terdengar sangat jarang bahkan hampir tidak ada. Penanganan kasus tindak pidana pangan sebenarnya telah diatur dalam peraturan perundang-undangan Republik Indonesia (UU No 18 tahun 2012). Sanksi, denda, dan hukuman pada pelaku tindak pidana kejahatan pangan juga telah diatur dengan jelas. Sayangnya, penegakan undang-undang ini masih sangat jauh dari harapan.

Layanan informasi yang memprihatinkan

Penulis mencoba mengakses layanan informasi tentang keracunan makanan yang disediakan oleh Badan POM RI dengan alamat: http://ik.pom.go.id/ (diakses pada tanggal 10 Februari 2018). Sayangnya, layanan ini tidak dapat menyajikan informasi apapun alias error. Lebih memprihatinkannya adalah karena layanan alternatif tidak disediakan, misalnya laporan keracunan yang seharusnya dapat diakses pada alamat web lainnya. Contoh ini adalah hanya satu dari sekian layanan lainnya yang sangat sulit untuk diakses. Muncul pertanyaan, apakah Badan BPOM tidak memiliki dana yang cukup untuk menyediakan informasi berbasis online? Atau, mungkinkah dari seluruh staf Badan BPOM tidak memiliki sumber daya manusia yang mumpuni untuk memperbaiki layanan ini? Perlu diketahui bahwa layanan publik ini sangatlah penting untuk disediakan untuk melibatkan semua pihak dalam pengawasan, termasuk untuk memberi masukan pada kinerja badan yang bersangkutan. Bukankah mereka digaji dari APBN?

Salah siapa?

Berbagai kejadian keracunan pangan yang terjadi dan buruknya layanan informasi yang ada menjadikan isu ini menjadi benang kusut. Dua hal ini hanyalah segelintir dari banyaknya hal lain yang mengakibatkan peristiwa keracunan pangan selalu diabaikan. Jika dipertanyakan siapa yang salah, pertanyaan tersebut tidaklah menyelesaikan masalah. Keracunan makanan yang terjadi dapat terjadi karena rendahnya pengetahuan pengusaha makanan dan konsumen tentang pentingnya menyediakan dan mengkonsumsi makanan yang sehat. Layananyang buruk bisa karena hal yang telah disebutkan diatas: kualitas sumber daya manusia rendah, dana rendah, dll. Rendahnya upaya penegakan hukum terhadap pelaku kejahatan pangan juga berkontribusi pada sepelenya pengusaha makanan terhadap jaminan keamanan pangan dan mutu produk yang mereka jual. Untuk menjawab tantangan yang terjadi ini, penting untuk melakukan asesmen menyeluruh untuk menemukan akar permasalah yang sesungguhnya dan membuat skala prioritas untuk menjamin keamanan dan mutu pangan.
References
1.
Hobbs, B. C. Food Poisoning and Food Hygiene. (Edward Arnold and Co., 1953).
Advertisement
Nodali Ndrahahttps://www.nodali.com/
Lahir di Sisobalauru, Indonesia. Aktif dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.

Artikel terkini

Informasi pilihan editor