Monday, May 27, 2019
Home Fakta Menarik Mengukur skala implementasi penerapan sistem managemen keamanan pangan pada perusahaan pengolah susu

Mengukur skala implementasi penerapan sistem managemen keamanan pangan pada perusahaan pengolah susu

- posted on

views, and

comment(s)

Advertisement

Manajemen keamanan pangan menjadi isu yang relevan saat ini, karena banyaknya kejadian keracunan makanan, baik yang diakibatkan oleh bahan kimia maupun biologi. Oleh karenanya, penelitian tentang manajemen keamanan pangan menjadi perhatian serius oleh pemerintah, pengusaha, dan peneliti. Salaha satunya adalah penelitian yang mengukur skala implementasi penerapan sistem managemen keamanan pangan (FSMS) pada perusahaan pengolah susu diteliti oleh Patrick Murigu Kamau Njage, Beatrice Opiyo, John Wangoh, dan Joseph Wambui di Kenya. Dalam penelitian tersebut, mereka menggunakan sebuah alat yang dinamakan Instrumen FSMS-Diagnostic yang digunakan untuk mengevaluasi lima belas pengolah susu Kenya berdasarkan indikator dan grid deskriptif untuk keperluan konteks berisiko, FSMS, dan keluaran keamanan mikroba (pangan) dengan skala produksi.

Risiko kontekstual didiagnosis dengan skala rendah, sedang atau tinggi. Setelah dibagi dalam berbagai cluster, hasilnya dapat diuraikan sebagai berikut:

Cluster I dan II memiliki rata-rata kontekstensi konteks sedangkan cluster III dan IV memiliki risiko sedang hingga tinggi. Cluster I telah mengembangkan aktivitas FSMS (skor 2) sementara Cluster IV memiliki aktivitas dasar. Cluster I memiliki keluaran keamanan makanan terbaik (skor 2) sedangkan Cluster IV memiliki aktivitas paling dasar. Cluster I sebagian besar terdiri dari perusahaan susu berskala besar dengan program FS, skala menengah Cluster II dengan program FS, skala menengah Cluster III tanpa program FS (Food Safety), dan usaha kecil berskala Cluster IV tanpa program FS.


Perusahaan susu skala kecil menunjukkan kinerja yang paling rendah dalam kegiatan validasi. Perusahaan susu berskala menengah dengan program FSMS yang ada setidaknya mengikuti analisis Critical Control Point, sejauh mana penggunaan informasi umpan balik, dokumentasi, dan aktivitas pembukuan umpan balik sementara UKM skala kecil dan kecil berkinerja buruk di hampir semua aktivitas FSMS selain dari kecukupan peralatan intervensi fisik. Sebagai kesimpulan, perusahaan susu berukuran kecil cenderung kekurangan program FS, yang meningkatkan risiko kontekstual mereka dan oleh karena itu ketidakmampuan mereka untuk memiliki FSMS berperforma baik atau menjamin keluaran keamanan produk mikroba yang tinggi dari produk susu. Adanya penelitian seperti ini menjadi pelajaran bagi kita untuk bisa mengevaluasi sejauh mana sistem kemanan pangan yang ada di Indonesia.

Advertisement

Selengkapnya, penelitian ini dapat dilihat di https://doi.org/10.1016/j.foodcont.2017.09.015

Advertisement
Nodali Ndrahahttps://www.nodali.com/
Lahir di Sisobalauru, Indonesia. Aktif dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.

Artikel terkini

Informasi pilihan editor