Monday, May 27, 2019
Home Fakta Menarik Pentingnya menjaga kebersihan peralatan makan di sekolah

Pentingnya menjaga kebersihan peralatan makan di sekolah

- posted on

views, and

comment(s)

Advertisement

Di banyak negara berkembang, program pemberian makanan tambahan di sekolah dilaksanakan sebagai langkah untuk memerangi kelaparan jangka pendek dengan menyediakan makanan gratis di sekolah. Hal ini juga dilaksanakan di sekolah-sekolah di Indonesia. Program pemberian makan di sekolah dirancang untuk menawarkan makanan gratis bagi pelajar dari komunitas yang rawan pangan dan yang sering tinggal di daerah dengan konsentrasi keluarga yang tinggi dengan pendapatan rumah tangga yang rendah ​[1]​.

Namun, yang sering diabaikan adalah tentang kebersihan peralatan makan atau permukaan kontak makanan yang digunakan. Kontaminasi mikroba berbahaya bisa terjadi terutama ketika pembersihan dan disinfektan permukaan kontak makanan yang tidak efektif. Sebagai contoh, patogen makanan seperti Escherichia coli O157: H7, S. aureus, L. monocytogenes dan Bacillus cereus dapat bertahan hidup di puing organik lembab pada permukaan kontak makanan dan bisa mencemari makanan. Selain itu, bakteri-baketeri tersebut juga dapat mencemari permukaan kontak makanan lainnya. Itulah makanya pembersihan dan sanitasi permukaan kontak makanan di fasilitas persiapan makanan merupakan langkah penting dalam menghilangkan bahaya mikroba, sehingga dapat mengurangi risiko wabah penyakit bawaan makanan yang sering disebut “food-borne poisoning” atau “food-borne illness.” Perlu dikatahui bahwa sebagian besar anak sekolah dapat sangat rentan terhadap efek penyakit bawaan makanan selama beberapa tahun pertama dalam kehidupan mereka, karena sistem kekebalan mereka tidak sepenuhnya berkembang atau mungkin telah dikompromikan oleh kondisi penyakit lainnya ​[2]​. Beberapa bakteri oportunistik yang mungkin tidak berbahaya bagi sebagian besar orang sehat, tetapi dapat menyebabkan penyakit dan bahkan kematian pada anak-anak, terutama mereka yang memiliki kekebalan tubuh yang lemah.

Sebuah penelitian yang dilakukan di Afrika Selatan telah meneliti tentang kebersihan fasilitas peralatan makan disekolah ​[3]​. Di negara ini, sebagian besar sekolah yang menawarkan program pemberian makanan sekolah berlokasi di masyarakat pedesaan dan permukiman informal dan beberapa sekolah ini kekurangan sumber daya dasar seperti listrik yang stabil dan pasokan air yang layak diminum. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa hanya 16,2% permukaan kontak makanan yang memiliki status kebersihan yang baik di mana jumlah koloni aerob permukaan kurang dari 2 log cfu/cm2. Selanjutnya, peneliti tersebut menemukan bahwa hanya 3% dari permukaan meja memiliki status kebersihan yang memuaskan. Listeria monocytogenes dan Staphylococcus aureus adalah patogen yang paling sering ditemukan pada permukaan kontak makanan masing-masing dengan 53,1% dan 25,5% insiden. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, mereka merekomendasikan bahwa, staf yang bekerja dalam persiapan makanan dan fasilitas layanan makanan di sekolah yang menawarkan program pemberian makanan sekolah mestinya dilatih dalam cara menggunakan bahan pembersih dan sanitrator secara memadai untuk membersihkan permukaan kontak makanan dengan tujuan untuk memastikan proses yang mereka lakukan dapat menghilangkan mikroorganisme permukaan secara efektif. Selain itu, fasilitas persiapan makanan harusnya menerapkan program HACCP.

pemberian makanan tambahan
Sumber foto: http://indonesiajuara.org/pemberian-makanan-tambahan-siswa-smp-juara/
Advertisement

Bagaimana dengan pelaksanaan program makanan tambahan di Indonesia? Salah satu contoh adalah seperti yang tampak pada foto diatas. Foto tersebut menunjukkan bahwa ada pemberian makanan tambahan bagi pelajar di SMP Juara, Bandung, yang dilaksanakan pada bulan September 2018. Pelajar tersebut menikmati makanan tambahan tanpa menyadari bahwa makanan mereka tersebut dapat terkontaminasi oleh bakteri berbahaya karena:

  • Makanan diletakan dilantai. Lantai bisa menjadi sumber kontaminasi bakteri berbahaya.
  • Makanan disentuh oleh tangan mereka yang belum tentu bebas dari patogen. Anda bisa melihat seorang pelajar laki-laki yang memegang makanan di tangan kanannya, dan tangan kirinya juga menyentuh lantai.

Dari fakta tersebut diatas, program pemberian makanan tambahan di Indonesia mestinya belajar dari penelitian ini. Kasus gizi buruk di Indonesia masih tinggi yang memang membutuhkan program ini terus dijalankan. Namun, program tersebut menjadi celaka bagi pelajar, terutama anak-anak, jika peralatan makan yang digunakan terkontaminasi oleh bakteri berbahaya. Mestinya, institusi pendidikan dan pemerintah memastikan program ini terlaksana dengan baik dan tidak menimbulkan masalah kesehatan bagi pelajar.M

Referensi:

  1. 1.
    World Food Programme (2013). State of School Feeding Worldwide (Rome, Italy: World Food Programme) Available at: https://www.wfp.org/content/state-school-feeding-worldwide-2013.
  2. 2.
    Scallan, E., Mahon, B.E., Hoekstra, R.M., and Griffin, P.M. (2012). Estimates of Illnesses, Hospitalizations, and Deaths Caused By Major Bacterial Enteric Pathogens in Young Children in the United States. The Pediatric Infectious Disease Journal, 1. Available at: http://dx.doi.org/10.1097/INF.0b013e31827ca763.
  3. 3.
    Sibanyoni, J.J., and Tabit, F.T. (2019). An assessment of the hygiene status and incidence of foodborne pathogens on food contact surfaces in the food preparation facilities of schools. Food Control, 94–99. Available at: http://dx.doi.org/10.1016/j.foodcont.2018.11.009.
Advertisement
Nodali Ndrahahttps://www.nodali.com/
Lahir di Sisobalauru, Indonesia. Aktif dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.

Artikel terkini

Informasi pilihan editor