Monday, May 27, 2019
Home Fakta Menarik Rasio bahan pangan pada makanan mempengaruhi kondisi kesehatan anak

Rasio bahan pangan pada makanan mempengaruhi kondisi kesehatan anak

- posted on

views, and

comment(s)

Advertisement

Staple food atau sering disebut sebagai makanan pokok adalah bahan pangan yang dikonsumsi secara rutin oleh individu atau kelompok tertentu pada suatu wilayah. Sebagai contoh, nasi adalah makan pokok penduduk negara Indonesia, walaupun sebelum tahun 1980-an, bahan pokok ini memiliki ragam, misalnya jagung, sagu, ubi kayu, pisang, dan bahan pangan lainnya yang mungkin saja belum diketahui secara umum.

Rasio bahan pangan pokok pada ransum anak, terutama pada balita, ternyata memiliki dampak pada pertumbuhan anak, yang ditunjukan dengan rendahnya berat badan per tinggi badan (wasting), terhambatnya pertumbuhan yang ditandai dengan rendahnya tinggi badan per umur (stunting), dan kondisi berat badan rendah terhadap umur (underweight). Hal inilah yang ditemukan oleh sekolompok peneliti di Uganda yang meneliti tentang hubungan antara rasio bahan pangan pokok dan kondisi wasting dan stunting. Berbagai faktor yang mereka ukur, misalnya ketersediaan makan, jumlah pengeluaran untuk bahan pokok, jenis kelamin kepala keluarga, rata-rata umur yang tinggal dalam rumah tangga, jumlah orang dalam keluarga, jumlah perempuan, lokasi tempat tinggal, keberadaan sang ayah dan ibu, pendidikan kepala keluarga, dan jenis kelamin si anak.

Hal yang menarik dari penelitian yang mereka lakukan, yang juga mereka tuangkan dalam kesimpulan, adalah: Semakin banyaknya rasio bahan pangan pada ransum anak berpotensi meningkatkan probabilitas anak menderita stunting maupun wasting, dan tidak ada perbedaan pada kedua jenis kelamin, laki-laki dan perempuan. Hal ini menunjukkan bahwa pentingnya memberikan ransum dengan berbagai ragam pada anak, tidak melulu hanya bahan pangan pokok saja. Hal ini penting, karena perkembangan dan pertumbuhan anak membutuhkan berbagai mineral dan vitamin, baik esensial maupun non-esensial.

Advertisement

[wpsm_ads1]

Isu malnutrisi di Indonesia

Penting untuk diketahui bahwa data statistik nasional Indonesia pada tahun 2016 dan 2017 menunjukkan bahwa stunting berada pada angka 37 persen. Menurut laporan Unicef tahun 2015, anka ini belum berubah sejak tahun 2007, yang berarti bahwa upaya semua pihak untuk mengurangi dampak gizi buruk masih belum optimal. Banyaknya program pemerintah maupun organisasi nirlaba juga belum menunjukkan hasil signifikan.

Pertanyaan kemudian muncul, apakah benar bahwa usaha selama ini adalah cara efektif untuk mengurangi dampak gizi buruk? Tolak ukur apa yang dapat digunakan untuk mengukur efektifias program yang selam ini dilakukan? Pertanyaan ini hanya dapat dijawab dengan keterlibatan semua pihak, bukanlah program satu badan atau organisasi. Kenyataannya, masalah gizi buruk kadang dipandang sebagai isu yang berada pada pundak kementerian kesehatan. Padahal, isu ini adalah isu yang saling terkait yang seharusnya dapat dilakukan dengan melakukan asesmen menyeluruh untuk menggali, merumuskan, dan mendeklarasikan secara bersama-sama upaya penanggulangan dan pengurangan dampak resiko gizi buruk.

Rencana dan arah kebijakan

Jika ditinjau dari rencana dan arah kebijakan pemerintah pusat dan daerah, khususnya untuk menghadapi siu malnutrisi, telah diatur dan tercantum sebagai salah satu arah kebijakan nasional. Kembali lagi pada persoalan utama, agaknya masalah ini dipandang sebagai tanggung jawab salah satu lembaga saja. Menariknya, beberapa organisasi nirlaba menyadari hal ini, dan mereka mencoba membangun sinergitas antar lembaga. Contoh sederhana adalah progam yang sangat popular saat ini, “Nutrition Sensitive Agriculture with Gender Perspective.” Sederhananya, program ini mengabungkan isu kesehatan, pertanian dengan perpective gender. Namun, program ini masih dalam pengembangan dan belum ada hasil signifikan yang dapat dijadikan role model di Indonesia.

Mengapa sulit?

Sulitnya melepaskan diri dari “jeratan” gizi buruk dipengaruhi oleh banyak faktor yang berasal dari internal maupun eksternal. Faktor internal, misalnya adalah rendahnya pengetahuan orang tua atau pengasuh anak terhadap pentingnya kesehatan. Selain itu, cara pandang yang dimiliki oleh orang tua atau pengasuh untuk mengakses informasi. Faktor ekternal, misalnya, budaya dan keyakinan. Agaknya, masalah gizi buruk ini belum bisa dikurangi, bahkan berpotensi bertambah, jika akar permasalah tidak benar-benar ditelusuri.

[wpsm_ads1]

Referensi

  1. Amaral MM, Herrin WE, Gulere GB. Using the Uganda National Panel Survey to analyze the effect of staple food consumption on undernourishment in Ugandan children. B. 2017;18(1).
    doi:10.1186/s12889-017-4576-1
  2. Bhattacharya J, Currie J, Haider S. Poverty, food insecurity, and nutritional outcomes in children and adults. J. 2004;23(4):839-862. doi:10.1016/j.jhealeco.2003.12.008
  3. Briefel R, Hanson C, Fox MK, Novak T, Ziegler P. Feeding Infants and Toddlers Study: Do Vitamin and Mineral Supplements Contribute to Nutrient Adequacy or Excess among US Infants and Toddlers? J. 2006;106(1):52.e1-52.e15. doi:10.1016/j.jada.2005.09.041
  4. Begini Upaya Pemerintah Turunkan Masalah Gizi di Indonesia  | Republika Online. Republika Online. http://republika.co.id/berita/gaya-hidup/info-sehat/16/03/18/o484we384-begini-upaya-pemerintah-turunkan-masalah-gizi-di-indonesia. Published March 18, 2016. Accessed February 9, 2018.
  5. Hubungan status gizi dan perkembangan anak usia 1-2 tahun. Universitas Lambungmangkurat.
    https://saripediatri.org/index.php/sari-pediatri/article/download/471/409. Published February 9, 2016. Accessed February 9, 2018.
  6. Kesehatan Ibu dan Anak: Persepsi budaya dan dampak kesehatannya. Universitas Sumatera Utara. http://library.usu.ac.id/download/fkm/fkm%20linda2.pdf. Published February 9,
    2004. Accessed February 9, 2018.
Advertisement
Nodali Ndrahahttps://www.nodali.com/
Lahir di Sisobalauru, Indonesia. Aktif dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.

Artikel terkini

Informasi pilihan editor