Monday, May 27, 2019
Home Fakta Menarik Risiko terinfeksi V. parahaemolyticus ketika mengkonsumsi makanan hasil laut

Risiko terinfeksi V. parahaemolyticus ketika mengkonsumsi makanan hasil laut

- posted on

views, and

comment(s)

Advertisement

Makanan laut dikonsumsi banyak orang. Mengkonsumsi makanan hasil laut dapat memberi manfaat bagi kesehatan, karena makanan laut kaya akan nutrisi, seperti protein, asam amino, asam lemak omega-3, serat, vitamin, dan mineral ​[1]​. Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa konsumsi makanan hasil laut dapat membantu perkembangan neurologis selama kehamilan dan perkembangan bayi dalam kandungan ​[2–5]​, juga dapat membantu melindungi dari risiko penyakit jantung koroner, stroke, kanker, depresi, penyakit neurodegeneratif tertentu, impartemen kognitif, dan sindrom metabolik ​[6–10]​.

Risiko terinfeksi V. parahaemolyticus ketika mengkonsumsi makanan hasil laut

Namun, dibalik banyaknya manfaat makanan laut, ada potensi risiko yang mungkin dialami oleh penikmat makana laut. Risiko yang dimaksud adalah potensi infeksi bakteri Vibrio parahaemolyticus yang mungkin terdapat dalam makanan laut. Perlu diketahui bahwa infeksi tergantung pada dosis bakteri yang dimakan dan faktor genetik.

Potensi infeksi Vibrio parahaemolyticus

Vibrio parahaemolyticus mudah ditemukan secara alami di lingkungan laut dan muara sungai. Bakteri ini juga sering ditemukan dalam makanan laut. Tertelannya strain patogen V. parahaemolyticus dapat menyebabkan gastroenteritis. Gejala khas gastroenteritis meliputi nyeri perut, diare, mual dan/atau demam. Gejala kurang umum lainnya yang disebabkan oleh patogen V. parahaemolyticus adalah misalnya infeksi luka dan septikemia. Dua jenis hemolisin, thermostable direct hemolysin (tdh) and thermostable direct-related hemolysin (trh), yang diproduksi oleh V. parahaemolyticus sering ditemukan sebagai agen penyebab yang terkait dengan penyakit bawaan makanan ​[11]​. Oleh karena itu penanda genetik tdh dan trh secara luas digunakan dalam banyak penelitian epidemiologi dan pengawasan untuk mengidentifikasi strain patogen V. parahaemolyticus.

Advertisement

Vibrio parahaemolyticus pertama kali diidentifikasi pada tahun 1950 setelah wabah keracunan makanan shirasu di Jepang yang menyebabkan 272 orang menderita gastroenteritis dan 20 orang meninggal ​[12]​. Banyak wabah V. parahaemolyticus terkait dengan konsumsi kerang telah sering dilaporkan di Amerika Serikat ​[13,14]​. Pada 2013, wabah V. parahaemolyticus dilaporkan di 13 negara bagian Amerika Serikat dengan 104 kasus penyakit dan 6 orang dirawat di rumah sakit ​[15]​. Selain itu, temuan baru-baru ini menunjukkan bahwa ada tren peningkatan infeksi V. parahaemolyticus di negara-negara Eropa ​[16,17]​.

Banyaknya kejadian infeksi V. parahaemolyticus dari konsumsi makanan laut haruslah menjadi perhatian serius. Para penggemar makanan laut mesti berhati-hati dalam memilih makanan laut, misalnya memilih restoran atau pedagang makan laut yang menjamin keamanan produknya. Bakteri ini dapat dengan mudah dihilangkan dengan pamanasan. Pemanasan dengan suhu 100 °C selama 3 menit dapat menurunkan jumlah bakteri ini hingga 6 log. Selain itu, jika makanan laut dimasak dirumah, maka pastikan makanan laut tersebut tidak terkontaminasi oleh bahan lain yang mengandung bakteri V. parahaemolyticus. Jika makanan laut tidak habis dimakan, simpanlah sisa makanan tersebut pada suhu dibawah 7 °C untuk mencegah pertumbuhan bakteri ini dalam makanan laut.

Jika artikel ini bermanfaat, bagikanlah untuk teman-teman anda.

Referensi

  1. 1.
    Lund, E.K. (2013). Health benefits of seafood; Is it just the fatty acids? Food Chemistry, 413–420. Available at: http://dx.doi.org/10.1016/j.foodchem.2013.01.034.
  2. 2.
    Daniels, J.L., Longnecker, M.P., Rowland, A.S., and Golding, J. (2004). Fish Intake During Pregnancy and Early Cognitive Development of Offspring. Epidemiology, 394–402. Available at: http://dx.doi.org/10.1097/01.ede.0000129514.46451.ce.
  3. 3.
    Jones, M.L., Mark, P.J., and Waddell, B.J. (2014). Maternal dietary omega-3 fatty acids and placental function. REPRODUCTION, R143–R152. Available at: http://dx.doi.org/10.1530/REP-13-0376.
  4. 4.
    Helland, I., Smith, L., Saarem, K., Saugstad, O., and Drevon, C. (2003). Maternal supplementation with very-long-chain n-3 fatty acids during pregnancy and lactation augments children’s IQ at 4 years of age. Pediatrics 111, e39-44. Available at: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/12509593.
  5. 5.
    Mennitti, L.V., Oliveira, J.L., Morais, C.A., Estadella, D., Oyama, L.M., Oller do Nascimento, C.M., and Pisani, L.P. (2015). Type of fatty acids in maternal diets during pregnancy and/or lactation and metabolic consequences of the offspring. The Journal of Nutritional Biochemistry, 99–111. Available at: http://dx.doi.org/10.1016/j.jnutbio.2014.10.001.
  6. 6.
    Zhao, W., Tang, H., Yang, X., Luo, X., Wang, X., Shao, C., and He, J. (2019). Fish Consumption and Stroke Risk: A Meta-Analysis of Prospective Cohort Studies. Journal of Stroke and Cerebrovascular Diseases, 604–611. Available at: http://dx.doi.org/10.1016/j.jstrokecerebrovasdis.2018.10.036.
  7. 7.
    Wennberg, M., Jansson, J.-H., Norberg, M., Skerfving, S., Strömberg, U., Wiklund, P.-G., and Bergdahl, I.A. (2016). Fish consumption and risk of stroke: a second prospective case-control study from northern Sweden. Nutr J. Available at: http://dx.doi.org/10.1186/s12937-016-0216-3.
  8. 8.
    Bonaccio, M., Ruggiero, E., Di Castelnuovo, A., Costanzo, S., Persichillo, M., De Curtis, A., Cerletti, C., Donati, M.B., de Gaetano, G., Iacoviello, L., et al. (2017). Fish intake is associated with lower cardiovascular risk in a Mediterranean population: Prospective results from the Moli-sani study. Nutrition, Metabolism and Cardiovascular Diseases, 865–873. Available at: http://dx.doi.org/10.1016/j.numecd.2017.08.004.
  9. 9.
    Baik, I., Abbott, R.D., Curb, J.D., and Shin, C. (2010). Intake of Fish and n-3 Fatty Acids and Future Risk of Metabolic Syndrome. Journal of the American Dietetic Association, 1018–1026. Available at: http://dx.doi.org/10.1016/j.jada.2010.04.013.
  10. 10.
    Tørris, C., Småstuen, M.C., and Molin, M. (2018). Nutrients in Fish and Possible Associations with Cardiovascular Disease Risk Factors in Metabolic Syndrome. Nutrients, 952. Available at: http://dx.doi.org/10.3390/nu10070952.
  11. 11.
    Baker-Austin, C., Oliver, J.D., Alam, M., Ali, A., Waldor, M.K., Qadri, F., and Martinez-Urtaza, J. (2018). Vibrio spp. infections. Nat Rev Dis Primers. Available at: http://dx.doi.org/10.1038/s41572-018-0005-8.
  12. 12.
    SHINODA, S. (2011). Sixty Years from the Discovery of Vibrio parahaemolyticus and Some Recollections. Biocontrol Sci., 129–137. Available at: http://dx.doi.org/10.4265/bio.16.129.
  13. 13.
    Haendiges, J., Timme, R., Allard, M.W., Myers, R.A., Brown, E.W., and Gonzalez-Escalona, N. (2015). Characterization of Vibrio parahaemolyticus clinical strains from Maryland (2012–2013) and comparisons to a locally and globally diverse V. parahaemolyticus strains by whole-genome sequence analysis. Front. Microbiol. Available at: http://dx.doi.org/10.3389/fmicb.2015.00125.
  14. 14.
    McLaughlin, J.B., DePaola, A., Bopp, C.A., Martinek, K.A., Napolilli, N.P., Allison, C.G., Murray, S.L., Thompson, E.C., Bird, M.M., and Middaugh, J.P. (2005). Outbreak ofVibrio parahaemolyticusGastroenteritis Associated with Alaskan Oysters. N Engl J Med, 1463–1470. Available at: http://dx.doi.org/10.1056/NEJMoa051594.
  15. 15.
    Newton, A., Garrett, N., Stroika, S., Halpin, J., Turnsek, M., Mody, R., and Centers, for (2014). Increase in Vibrio parahaemolyticus infections associated with consumption of Atlantic Coast shellfish–2013. MMWR Morb Mortal Wkly Rep 63, 335–6. Available at: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/24739344.
  16. 16.
    Baker-Austin, C., Stockley, L., Rangdale, R., and Martinez-Urtaza, J. (2010). Environmental occurrence and clinical impact of Vibrio vulnificus and Vibrio parahaemolyticus: a European perspective. Environmental Microbiology Reports, 7–18. Available at: http://dx.doi.org/10.1111/j.1758-2229.2009.00096.x.
  17. 17.
    Martinez-Urtaza, J., Powell, A., Jansa, J., Rey, J.L.C., Montero, O.P., Campello, M.G., López, M.J.Z., Pousa, A., Valles, M.J.F., Trinanes, J., et al. (2016). Epidemiological investigation of a foodborne outbreak in Spain associated with U.S. West Coast genotypes of Vibrio parahaemolyticus. SpringerPlus. Available at: http://dx.doi.org/10.1186/s40064-016-1728-1.
Advertisement
Nodali Ndrahahttps://www.nodali.com/
Lahir di Sisobalauru, Indonesia. Aktif dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.

Artikel terkini

Informasi pilihan editor