Pemerhati Managemen Keamanan dan Mutu Pangan

Produk pangan apa sajakah yang sering dicurangi?

Kecurangan pangan atau sering disebut “food fraud” sering terjadi. Seperti yang telah dijelaskan pada artikel sebelumnya bahwa kecurangan pangan pada dasarnya adalah karena motif ekonomi. Dalam artikel sebelumnya yang berjudul Mencegah Kecurangan dan Penipuan Produk Pangan, praktik ini sebenenarnya dapat dicegah atau setidaknya dapat diminimalisasi dengan catatan bahwa semua pihak ikut berkontribusi dalam pencegahan dan pengawasan.

Dalam kajian yang ditulis oleh Ruth, dkk (2018) disebutkan bahwa kecurangan pangan diakibatkan oleh interaksi 3 faktor utama: peluang, motivasi pelaku, dan kurangnya tindakan pengendalian oleh pihak yang bertanggung jawab untuk mengawasi, mengaudit, mengevaluasi produk pangan secara keseluruhan. Mereka (peneliti) mengevaluasi kecurangan produk pangan, diantaranya: ikan, daging, susu, minyak zaitun, pisang organik, dan rantai pasokan rempah-rempah. Perlu diketahui bahwa jenis produk tersebut sering menjadi objek kecurangan pangan. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa rantai komoditas produk pangan menjadi faktor utama yang menimbulkan terjadinya kecurangan pangan. Sebagai contoh, daging menunjukkan nilai tertinggi untuk faktor peluang karena akses terhadap jalur produksi dan data historis. Dari sisi motivasi pelaku, produk daging dan minyak zaitun menjadi objek yang sering dicurangi karena nilainya yang tinggi dan rendahnya penindakan pidana. Selanjutnya, kecurangan dalam rantai ikan dan rempah lebih disebabkan karena kurangnya pengawasan dalam rantai pangan tersebut oleh pihak yang berkepentingan.  Hal lainnya yang menarik perhatian adalah bahwa diantara kelompok aktor, kelompok pedagang grosir/pedagang tampak paling rentan, diikuti oleh pengecer dan pengolah. Penelitian ini mengindikasikan bahwa pengawasan produk pangan dan rantainya masih belum efektif.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Ruth, dkk (2018) ini tidaklah berbeda jauh dengan apa yang terjadi di Indonesia. Produk pangan tersebut diduga telah terjadi dalam rantai pasokan bahan pangan di Indonesia, meskipun beberapa waktu lalu dikonfirmasi oleh BPOM RI bahwa berita yang beredar adalah palsu. Sebut saja, beredarnya rumor tentang telur asin palsu yang baru-baru ini sedang ramai dibicarakan. Namun, sekali lagi, hal itu dikonfirmasi sebagai “hoax” oleh pengawas pangan. Berita lain adalah kecurangan pada produk beras dan bawang putih. Meskipun kasus ini telah ditangani, namun kejadian tersebut hanyalah bagian kecil dari rantai kecurangan yang terjadi. Yang dapat dipelajari dari kegiatan ini adalah bahwa kecurangan pangan bisa terjadi kapan saja ketika ada peluang. Banyaknya hari raya keagamaan di Indonesia juga sering kali dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan ini untuk meraih keuntungan. Beberapa tindakan pengawasan dan pencegahan yang dilakukan adalah terbentuknya satgas pengawas pangan. Sayangnya, satgas ini dibentuk hanya pada saat-saat hari raya besar. Padahal, kecurangan berlangsung kapan saja dan sering kali terlambat untuk diketahui. Sebagai konsumen produk pangan, agaknya kehati-hatian perlu ditingkatkan. Kesadaran akan keamanan dan mutu pangan menjadi penting untuk menjamin kesehatan. Harga yang murah kadang-kadang menjadi jerat yang membawa dampak buruk bagi konsumen. Untuk itu, konsumen mesti teliti dan hendaknya bersedia membantu para pengawas pangan untuk mengawasi dan mengevaluasi produk pangan.

Referensi


  1. Ndraha N. Mencegah Kecurangan dan Penipuan Produk Pangan. Nodali Ndraha. http://www.nodali.com/mencegah-kecurangan-dan-penipuan-pangan/. Published January 21, 2018. Accessed February 14, 2018.
  2. van Ruth SM, Luning PA, Silvis ICJ, Yang Y, Huisman W. Differences in fraud vulnerability in various food supply chains and their tiers. F. 2018;84:375-381. doi:10.1016/j.foodcont.2017.08.020
  3. Perempuan Ini Beli 6 Telur Asin, Tapi Saat Dikupas Satu Keluarga Kaget Melihat Isinya – Tribunnews.com. Tribunnews.com. http://www.tribunnews.com/internasional/2017/05/08/perempuan-ini-beli-6-telur-asin-tapi-saat-dikupas-satu-keluarga-kaget-melihat-isinya. Published May 8, 2017. Accessed February 14, 2018.
  4. Polri Ungkap Kecurangan Distribusi Pangan di Sejumlah Daerah | Republika Online. Republika Online. http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/hukum/17/05/22/oqbib2354-polri-ungkap-kecurangan-distribusi-pangan-di-sejumlah-daerah. Published May 22, 2017. Accessed February 14, 2018.
  5. Valenta Sari E. Satgas Pangan Ungkap 79 Kasus Kecurangan Selama Ramadan. CNN Indonesia. https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20170531203409-92-218642/satgas-pangan-ungkap-79-kasus-kecurangan-selama-ramadan. Published June 1, 2017. Accessed February 14, 2018.
  6. Sohuturon M. Polri Bentuk Satgas Pangan Antisipasi Kecurangan di Ramadan. CNN Indonesia. https://www.cnnindonesia.com/nasional/20170503123311-12-211879/polri-bentuk-satgas-pangan-antisipasi-kecurangan-di-ramadan. Published May 3, 2018. Accessed February 14, 2018.
Share:

Dampak program pertanian pada peningkatan status gizi belum terbukti


Gizi buruk masih menjadi topik hangat sekaligus memprihatinkan karena penanggulangan dan pengurangan resikonya masih sangat minim. Kasus yang masih ramai dibicarakan adalah ditemukannya korban gi buruk di Asmat, Provinsi Papua Barat. Padahal, dana yang dikucurkan untuk mencegah peristiwa ini mencapai Rp 8 triliun. Sayang sekali, hasilnya masih jauh dari yang diharapkan. Berbagai peristiwa lain yang serupa juga telah diberitakan sebelumnya, namun tetap saja, berita tersebut berlalu begitu saja. Tampaknya, keseriusan penanggulangan masalah ini belum ditemukan titik terangnya.

Salah satu hal yang menarik adalah banyaknya program pengurangan resiko gizi buruk di Indonesia, dan bahkan juga sering sekali dilaksanakan diberbagai belahan dunia. Sebut saja, program pertanian yang sering sekali dipandang sebagai salah satu program untuk menjawab permasalah gizi buruk. Namun, seperti apakah hasil penelitian tentang dampak program pertanian pada pada peningkatan status gizi? Belum terbukti hasilnya!


Menurut hasil evaluasi yang dilakukan oleh Ruel, dkk, (2013) disebutkan bahwa program pertanian yang ditargetkan dapat mengurangi dampak gizi buruk dengan mendukung mata pencaharian, meningkatkan akses terhadap beragam makanan pada penduduk miskin, dan mendorong pemberdayaan perempuan. Namun, bukti efek nutrisi dari program pertanian tidak dapat disimpulkan alias belum terbukti. Satu-satunya program yang memberikan hasil terukur adalah program vitamin A dari biofortifikasi ubi jalar.

Lebih lanjut, menurut penelitian Ruel, dkk, (2013) ini, disebutkan bahwa justru program pendidikan orang tua terhadap gizi sangat terkait dengan peningkatan status gizi anak. Namun, perlu digarisbawahi bahwa munculnya berbagai program baru terkait dengan pendidikan orang tua ini perlu diuji efektivitasnya. Banyak program yang ditinjau awalnya tidak dirancang untuk memperbaiki gizi namun memiliki potensi besar untuk melakukannya.

Untuk menjawab tantangan ini, saat ini sedang maraknya program nutrisi yang diintegrasikan dalam program pertanian atau sering disebut “nutrition sensitive agriculture“. Namun, program ini masih belum dapat dipastikan hasilnya karena masih dalam tahap uji.  Bentuk dan desain programnya perlu dirancang sedemikian rupa untuk menentukan metoda yang perlu dilakukan. Salah satu cara untuk meningkatkan sensitivitas  program nutrisi dalam pertanian meliputi: perbaikan target; merangsang partisipasi berbasis kondisi setempat; dan mengoptimalkan keterlibatan dan pemberdayaan perempuan dalam mengakses nutrisi, waktu, kesehatan fisik dan mental mereka.

Sebagai contoh adalah program yang ditarget pada anak dibawah umur 2 tahun perlu untuk lebih fokus pada pembinaan orang tua dalam pengasuhan anak sekaligus mengedukasi mereka tentang pentingnya penyediaan micro-nutrient tanpa melupakan pemenuhan macro-nutrient. Untuk mencapai hal ini, program nutrisi yang diintegrasikan dalam program pertanian perlu melibatkan banyak pihak, termasuk tenaga kesehatan dan pertanian. Bahkan, tidak menutup kemungkinan untuk berkolaborasi dengan departemen lain, misalnya dinas sosial guna membangun dan membentuk jaringan pengaman sosial yang disebut dengan “social safety net program.” Masih banyak pihak lainnya yang bisa saja terlibat. Keterlibatan ini dapat ditentukan dengan melakukan asesmen guna menentukan skala prioritas sebuah aksi.

Agaknya, pekerjaan pengurangan resiko gizi buruk ini masih berat dan langkah yang perlu ditempuh masih panjang. Untuk itu, perlu sinergitas semua pihak, termasuk dukungan dari kebijakan dari pemegang keputusan. Intervensi dan program yang sensitif terhadap nutrisi di bidang pertanian, jaringan pengaman sosial, program pengembangan anak usia dini, dan pendidikan orang tua asuh memiliki potensi yang sangat besar untuk meningkatkan skala dan efektivitas intervensi khusus nutrisi. Selain itu, keamangan dan mutu pangan sering sekali terlupakan dalam program ini. Padahal, masalah gizi buruk yang terjadi sangat berkorelasi dengan keamanan pangan. Namun, lagi-lagi, masalah ini belum tersentuh oleh kebijakan dengan sudut pandang keamanan dalam penuntasan masalah gizi buruk.

Referensi

  1. Cyber Media K. Ini Gambaran Menkes tentang Kondisi Korban Gizi Buruk di Asmat – Kompas.com. KOMPAS.com. http://nasional.kompas.com/read/2018/01/29/18120331/ini-gambaran-menkes-tentang-kondisi-korban-gizi-buruk-di-asmat. Published January 29, 2018. Accessed February 25, 2018.
  2. Cyber Media K. KLB Gizi Buruk di Asmat, Ketua DPR Minta Dana Otsus Papua Dikaji Ulang – Kompas.com. KOMPAS.com. http://nasional.kompas.com/read/2018/01/30/15421251/klb-gizi-buruk-di-asmat-ketua-dpr-minta-dana-otsus-papua-dikaji-ulang. Published January 30, 2018. Accessed February 25, 2018.
  3. Angka Gizi Buruk di Indonesia Masih Tinggi, Inilah Penyebabnya – Tribunnews.com. Tribunnews.com. http://www.tribunnews.com/regional/2018/01/25/angka-gizi-buruk-di-indonesia-masih-tinggi-inilah-penyebabnya. Published January 25, 2018. Accessed February 25, 2018.
  4. Gizi Buruk di Berbagai Wilayah Indonesia. Tirto.id. https://tirto.id/gizi-buruk-di-berbagai-wilayah-indonesia-cDLi. Published January 25, 2018. Accessed February 25, 2018.
  5. Hotz C, Loechl C, Lubowa A, et al. Introduction of β-Carotene–Rich Orange Sweet Potato in Rural Uganda Resulted in Increased Vitamin A Intakes among Children and Women and Improved Vitamin A Status among Children. The Journal of Nutrition. 2012;142(10):1871-1880. doi:10.3945/jn.111.151829
  6. Hotz C, Loechl C, de Brauw A, et al. A large-scale intervention to introduce orange sweet potato in rural Mozambique increases vitamin A intakes among children and women. B. 2011;108(01):163-176. doi:10.1017/s0007114511005174
  7. Ruel MT, Alderman H. Nutrition-sensitive interventions and programmes: how can they help to accelerate progress in improving maternal and child nutrition? T. 2013;382(9891):536-551. doi:10.1016/s0140-6736(13)60843-0
  8. Wesana J, De Steur H, Dora MK, Mutenyo E, Muyama L, Gellynck X. Towards nutrition sensitive agriculture. Actor readiness to reduce food and nutrient losses or wastes along the dairy value chain in Uganda. J. 2018;182:46-56. doi:10.1016/j.jclepro.2018.02.021
  9. Singh S, Fernandes M. Home-grown school feeding: promoting local production systems diversification through nutrition sensitive agriculture. F. 2018;10(1):111-119. doi:10.1007/s12571-017-0760-5

Share:

Rasio bahan pangan pada makanan mempengaruhi kondisi kesehatan anak

Share:

Kasus keracunan makanan yang sering diabaikan, salah siapa?


Pendahuluan

Kasus keracuanan makanan atau yang sering disebut “food poisoning” yang terjadi di Indonesia menghiasi beberapa tag-line media online dan media cetak di tanah air. Terima kasih kepada reporter yang mengungkapkan informasi tentang peristiwa ini. Peristiwa yang baru saja terjadi adalah keracuanan makanan yang mengakibatkan 43 Siswa SMP Negeri 2 Tarakan yang harus dirawat di Puskesmas Karang Rejo untuk mendapatkan pertolongan pertama. Kasus lainnya adalah sebanyak 31 Warga Muarosijunjung juga mengalami keracunan makanan seusai menkonsumsi gulai pensi. Dokter setempat juga membenarkan bahwa para warga tersebut mengalami mual, muntah, mencret karena keracunan makanan.
Sebagai informasi, keracunan pangan dapat saja diakibatkan oleh makanan yang terkontaminasi oleh mikroorganisme berbahaya, makanan kadaluarsa atau makanan yang mengandung toksin berbahaya. Secara umum, gejala keracunan makanan, seperti yang disampaikan oleh Hobbs (1953), diantaranya adalah: kram perut, diare, muntah, kehilangan selera makan, demam ringan, lemas, mual, dan sakit kepala. 

Mengapa terjadi keracunan makanan?

Secara umum, makanan dapat terkontaminasi oleh beberapa hal berikut:
        Tidak memasak makanan secara menyeluruh (terutama daging)
        Penyimpanan makanan yang tidak tepat, terutama makanan yang perlu didinginkan di bawah 5°C
        Meninggalkan makanan yang telah dimasak terlalu lama pada suhu hangat karena bakteri dapat bertumbuh dengan cepat pada suhu tersebut.
        Pemanasan makanan yang tidak tepat pada makanan yang telah dimasak sebelumnya
        Penyebaran bakteri dari seseorang yang sakit atau yang memiliki tangan kurang bersih
        mengkonsumsi makanan yang telah melewati tanggal kadaluarsa
        Penyebaran bakteri antara makanan yang terkontaminasi (cross-contamination)
Dalam skala produksi, kontaminasi makanan tersebut dapat terjadi disepanjang rantai makan tersebut. Misalnya, banyaknya prevalensi bakteri pathogen pada bahan baku, suhu penyimpanan yang tidak tepat, suhu yang tidak tepat pada saat distribusi, higienitas pengolahan, dan lain sebagainya. Oleh karenanya, penting sekali untuk mengevaluasi sumber penyebab kontaminasi makanan tersebut agar dapat mencegah keracunan makanan.

Kasus keracunan makanan yang selalu diabaikan

Contoh kejadian keracunan makanan yang disebutkan diatas adalah kejadian yang dilaporkan dalam 1 minggu terakhir. Bila ditelusuri, kejadian tersebut seakan berlalu begitu saja. Sangat jarang didengar bahwa ada follow-up dari pihak berwenang untuk mengusut tuntas kasus-kasus seperti ini. Padahal, kejadian tersebut dapat berakibat fatal hingga kematian, sayangnya, hal tersebut masih dipandang sebelah mata. Pada tahun lalu, 2017, kepala BPOM RI menegaskan pentingnya untuk mengawasi tindak pidana pada obat dan makanan. Beberapa kasus yang dipidanakan telah mendapat putusan pengadilan dengan hukuman maksimum 2,5 tahun penjara pada pelaku tindak pidana obat. Sayangnya, putusan pengadilan terhadap tindak pidana pada produk pangan terdengar sangat jarang bahkan hampir tidak ada.
Penanganan kasus tindak pidana pangan sebenarnya telah diatur dalam peraturan perundang-undangan Republik Indonesia (UU No 18 tahun 2012). Sanksi, denda, dan hukuman pada pelaku tindak pidana kejahatan pangan juga telah diatur dengan jelas. Sayangnya, penegakan undang-undang ini masih sangat jauh dari harapan.

Layanan informasi yang memprihatinkan

Penulis mencoba mengakses layanan informasi tentang keracunan makanan yang disediakan oleh Badan POM RI dengan alamat: http://ik.pom.go.id/ (diakses pada tanggal 10 Februari 2018). Sayangnya, layanan ini tidak dapat menyajikan informasi apapun alias error. Lebih memprihatinkannya adalah karena layanan alternatif tidak disediakan, misalnya laporan keracunan yang seharusnya dapat diakses pada alamat web lainnya. Contoh ini adalah hanya satu dari sekian layanan lainnya yang sangat sulit untuk diakses. Muncul pertanyaan, apakah Badan BPOM tidak memiliki dana yang cukup untuk menyediakan informasi berbasis online? Atau, mungkinkah dari seluruh staf Badan BPOM tidak memiliki sumber daya manusia yang mumpuni untuk memperbaiki layanan ini? Perlu diketahui bahwa layanan publik ini sangatlah penting untuk disediakan untuk melibatkan semua pihak dalam pengawasan, termasuk untuk memberi masukan pada kinerja badan yang bersangkutan. Bukankah mereka digaji dari APBN?

Salah siapa?

Berbagai kejadian keracunan pangan yang terjadi dan buruknya layanan informasi yang ada menjadikan isu ini menjadi benang kusut. Dua hal ini hanyalah segelintir dari banyaknya hal lain yang mengakibatkan peristiwa keracunan pangan selalu diabaikan. Jika dipertanyakan siapa yang salah, pertanyaan tersebut tidaklah menyelesaikan masalah. Keracunan makanan yang terjadi dapat terjadi karena rendahnya pengetahuan pengusaha makanan dan konsumen tentang pentingnya menyediakan dan mengkonsumsi makanan yang sehat. Layananyang buruk bisa karena hal yang telah disebutkan diatas: kualitas sumber daya manusia rendah, dana rendah, dll. Rendahnya upaya penegakan hukum terhadap pelaku kejahatan pangan juga berkontribusi pada sepelenya pengusaha makanan terhadap jaminan keamanan pangan dan mutu produk yang mereka jual. Untuk menjawab tantangan yang terjadi ini, penting untuk melakukan asesmen menyeluruh untuk menemukan akar permasalah yang sesungguhnya dan membuat skala prioritas untuk menjamin keamanan dan mutu pangan.

References

  1. Ali S. Makan Nasi Uduk, 43 Siswa SMP Negeri 2 Tarakan Keracunan Massal. Detiknews. https://news.detik.com/berita/d-3854554/makan-nasi-uduk-43-siswa-smp-negeri-2-tarakan-keracunan-massal. Published February 7, 2018. Accessed February 10, 2018.
  2. Hobbs BC. Food Poisoning and Food Hygiene. London: Edward Arnold And Co.; 1953.
  3. Kepala Badan POM: Tindak Pidana Obat dan Makanan Merupakan Perkara Penting! Badan POM. https://www.pom.go.id/mobile/index.php/view/pers/358/Kepala-Badan-POM–Tindak-Pidana-Obat-dan-Makanan-Merupakan-Perkara-Penting-.html. Published March 14, 2017. Accessed February 10, 2018.
  4. Siaran pers Badan POM RI musnahkan 3,8 miliar rupiah obat dan makanan ilegal di Surabaya. Badan POM. https://www.pom.go.id/new/view/more/pers/393/SIARAN-PERS–BADAN-POM-RI-MUSNAHKAN-3-8-MILIAR-RUPIAH-OBAT-DAN-MAKANAN-ILEGAL-DI-SURABAYA-.html. Published December 28, 2017. Accessed February 10, 2018.
Share:

Kajian Metode Penilaian Risiko Terkait Produk Pangan

Isu keamanan dan mutu pangan menjadi topik yang paling hangat di jagad raya akhir-akhir ini. Hal ini terjadi karena banyaknya laporan tentang kasus keracunan makanan, bahkan diantaranya ada yang harus menginap dirumah sakit dan juga ada yang meninggal. Hal ini menjadi hal serius untuk ditanggapi oleh berbagai kalangan, termasuk akademia, pemegang kekuasaan, dan juga pelaku industri pangan.

Dalam sejarahnya, resiko keamanan pangan ini telah dicetuskan sejak lebih dari 20 tahun yang lalu. Sebagai hasilnya, beberapa penelitian yang dilakukan untuk menilai peringkat resiko terhadap bahawa makanan yang terkontaminasi pun semakin banyak. Peringkat risiko kesehatan terkait dengan keamanan pangan dan gizi pada umumnya diakui sebagai dasar penetapan prioritas berbasis risiko dan alokasi sumber daya. Ini memungkinkan organisasi pemerintah dan peraturan untuk mengalokasikan sumber daya mereka secara efisien ke masalah kesehatan masyarakat yang paling signifikan. Dalam batasan makanan, risiko didefinisikan sebagai analisis dan prioritas dari kemungkinan gabungan dari kontaminasi makanan, paparan konsumen dan ukuran dampak kesehatan masyarakat yang diantisipasi dari bahaya kimia, mikrobiologi dan  atau gizi spesifik yang terkait dengan makanan. Ini adalah kombinasi dari kemungkinan bahaya yang terjadi pada produk makanan dan dampak paparan bahaya terhadap kesehatan manusia.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Van der Fels-Klerx, dkk (2017) telah menkaji berbagai metode yang digunakan dalam menilai risiko bahaya terkait makanan, berdasarkan risiko pada kesehatan manusia. Sebuah tinjauan literatur dilakukan untuk mengidentifikasi dan mengkarakterisasi metode untuk penentuan risiko dari bidang pangan, ilmu lingkungan dan sosio-ekonomi. Kajian ini menggunakan protokol pencarian yang telah ditentukan, dan mencakup database bibliografi Scopus, CAB Abstracts, Web of Sciences, dan PubMed selama periode 1993-2013.

Semua referensi yang dianggap relevan, berdasarkan kriteria evaluasi yang telah ditentukan, disertakan dalam tinjauan ulang, dan metode rangking risiko dicirikan. Yang menarik dari hasil penelitian ini adalah, ternyata ada banyak metode yang dilakukan dalam analisa resiko bahaya pangan, diantaranya: penilaian risiko, penilaian risiko komparatif, metode rasio risiko, metode penilaian, biaya penyakit, riwayat hidup disesuaikan kesehatan (HALY), analisis keputusan multi kriteria, matriks risiko, diagram alir, dan pendapat para ahli.

Hal lain yang menurut penulis sangat menarik dari kajian ini adalah, analisa resiko bahan kimia (chemical risk assessment) dan biologi (microbial risk assessment) menjadi topik yang paling banyak diteliti. Hingga tahun 2013, ada 19 penelitian yang berhubungan dengan kimia dan 72 penelitan yang terkait dengan microbiologi pangan. Empat penelitan lainnya berhubungan dengan analisa nutrisi yang terkandung dalam pangan.

Disimpulkan tidak ada satu metode terbaik untuk peringkat risiko. Metode yang digunakan harus dipilih berdasarkan kebutuhan manajer atau asesor risiko, ketersediaan data, dan karakteristik metode. Untuk mengetahui lebih lanjut, silahkan mengecek referensi dibawah ini.

Referensi
Van der Fels-Klerx HJ, Van Asselt ED, Raley M, et al. Critical review of methods for risk ranking of food-related hazards, based on risks for human health. C. 2017;58(2):178-193. doi:10.1080/10408398.2016.1141165
Share:

Mengukur skala implementasi penerapan sistem managemen keamanan pangan pada perusahaan pengolah susu

Manajemen keamanan pangan menjadi isu yang relevan saat ini, karena banyaknya kejadian keracunan makanan, baik yang diakibatkan oleh bahan kimia maupun biologi. Oleh karenanya, penelitian tentang manajemen keamanan pangan menjadi perhatian serius oleh pemerintah, pengusaha, dan peneliti. Salaha satunya adalah penelitian yang mengukur skala implementasi penerapan sistem managemen keamanan pangan (FSMS) pada perusahaan pengolah susu diteliti oleh Patrick Murigu Kamau Njage, Beatrice Opiyo, John Wangoh, dan Joseph Wambui di Kenya.

Dalam penelitian tersebut, mereka menggunakan sebuah alat yang dinamakan Instrumen FSMS-Diagnostic yang digunakan untuk mengevaluasi lima belas pengolah susu Kenya berdasarkan indikator dan grid deskriptif untuk keperluan konteks berisiko, FSMS, dan keluaran keamanan mikroba (pangan) dengan skala produksi. Risiko kontekstual didiagnosis dengan skala rendah, sedang atau tinggi. Setelah dibagi dalam berbagai cluster, hasilnya dapat diuraikan sebagai berikut: Cluster I dan II memiliki rata-rata kontekstensi konteks sedangkan cluster III dan IV memiliki risiko sedang hingga tinggi. Cluster I telah mengembangkan aktivitas FSMS (skor 2) sementara Cluster IV memiliki aktivitas dasar. Cluster I memiliki keluaran keamanan makanan terbaik (skor 2) sedangkan Cluster IV memiliki aktivitas paling dasar. Cluster I sebagian besar terdiri dari perusahaan susu berskala besar dengan program FS, skala menengah Cluster II dengan program FS, skala menengah Cluster III tanpa program FS (Food Safety), dan usaha kecil berskala Cluster IV tanpa program FS. Perusahaan susu skala kecil menunjukkan kinerja yang paling rendah dalam kegiatan validasi. Perusahaan susu berskala menengah dengan program FSMS yang ada setidaknya mengikuti analisis Critical Control Point, sejauh mana penggunaan informasi umpan balik, dokumentasi, dan aktivitas pembukuan umpan balik sementara UKM skala kecil dan kecil berkinerja buruk di hampir semua aktivitas FSMS selain dari kecukupan peralatan intervensi fisik. Sebagai kesimpulan, perusahaan susu berukuran kecil cenderung kekurangan program FS, yang meningkatkan risiko kontekstual mereka dan oleh karena itu ketidakmampuan mereka untuk memiliki FSMS berperforma baik atau menjamin keluaran keamanan produk mikroba yang tinggi dari produk susu.

Adanya penelitian seperti ini menjadi pelajaran bagi kita untuk bisa mengevaluasi sejauh mana sistem kemanan pangan yang ada di Indonesia. 

Selengkapnya, penelitian ini dapat dilihat di https://doi.org/10.1016/j.foodcont.2017.09.015
Share:

Selamat Tahun Baru 2018

Selamat Tahun Baru 2018!

Sukacita tahun baru 2018 masih menghiasi suasana hati banyak orang. Momen pergantian baru bagi sebagian orang dijadikan sebagai masa untuk menyusun target baru, merancang strategi untuk menjadi pemenang dengan harapan yang baru. Bagi sebagian orang, momen pergantian baru dijadikan mereka saebagai kesempatan untuk merefleksikan kehidupan mereka, setidaknya dalam tempo waktu satu tahun sebelumnya. Dengan merefleksikan kehidupan, mereka bisa menganalisa kekurangan dan kelebihan yang mereka miliki; mengoptimalisasi kekurangan dan menajamkan kelebihan mereka ke arah yang lebih spesifik.

Tahun 2017 menjadi momen bersejarah bagi saya karena dalam waktu tersebut. Setidaknya, saya bisa menyelesaikan perkuliahan Master saya di National Taiwan Ocean University. Selain itu, saya juga diberi kesempatan untuk melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi, studi doktoral, di universitas yang sama dan tinggal di lab yang sama.

Momen natal dan Tahun Baru 2018 telah terabadikan, setidaknya dalam berbagai kesempatan. Berikut, beberapa momen berharga bersama dengan teman-teman yang sedang belajar di Taiwan.


Merayakan hari Natal bersama dengan mahasiswa internasional yang diselenggarakan oleh pihak universitas, National Taiwan Ocean University.


Merayakan Natal di bersama dengan mahasiswa internasional dan mhasiswa lokal melalui kegiatan student activity group di National Taiwan Ocean University.


Tahun 2018 menjadi tahun perjuangan dan pertarungan yang sengit bagi saya. Saya mencoba membuat skala prioritas bagi saya. Salah satunya adalah hal yang berhubungan dengan studi saya. Oleh karena requirement untuk meyelesaikan studi doktoral mensyaratkan minimal 2 publikasi hasil penelitian, maka saya berkeiniginan untuk bisa mempublikasikan satu artikel dalam kurun waktu 2018 ini. Hal ini berarti, saya harus produktif dan kerja keras untuk menghasilkan karya yang bermutu dan bisa dipublikasikan di jurnal bereputasi.

Salah satu hasil perenungan saya pribadi adalah: Jika tahun 2017 telah menjadi tahun kelimpahan bagi saya, biarlah tahun 2018 menjadi waktu untuk menyaksikan perbuatan Tuhan melalui hal-hal yang baru bagi saya.

Selamat Tahun Baru 2018. Sukses untuk semua!


Share: