Di tengah keluhan masyarakat mengenai tingginya biaya kuota data dan ketimpangan akses digital di pelosok negeri, sebuah terobosan infrastruktur digital hadir menawarkan angin segar. PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI), atau yang lebih dikenal sebagai Surge, melalui pilar bisnis konektivitasnya, tengah agresif memperluas jangkauan program WiFi Internet Rakyat (WIR). Bukan sekadar janji manis, program ini memanfaatkan infrastruktur serat optik berkapasitas besar di sepanjang jalur kereta api untuk membanjiri daerah-daerah yang selama ini haus sinyal dengan internet super cepat dan terjangkau, menantang dominasi operator seluler konvensional.
Program WiFi Internet Rakyat merupakan inisiatif penyediaan akses internet publik yang unik karena basis infrastrukturnya. Surge bekerja sama dengan PT Kereta Api Indonesia (Persero) untuk menggelar jaringan serat optik di sepanjang rel kereta api di Pulau Jawa. Jaringan ini berfungsi sebagai tulang punggung berkapasitas besar yang kemudian didistribusikan ke pemukiman, stasiun, pasar, dan area publik di sekitar jalur rel. Berbeda dengan WiFi publik biasa yang seringkali lambat dan tidak stabil karena masih menggunakan kabel tembaga, WIR menawarkan koneksi berbasis serat optik murni yang menjamin latensi rendah dan kecepatan tinggi hingga 100 Mbps, sebuah spesifikasi yang sangat mumpuni untuk kebutuhan streaming, belajar daring, hingga operasional UMKM.
Saat ini, fokus utama ekspansi layanan Surge berada di Pulau Jawa, mengikuti jalur kereta api yang menjadi rute utama jaringan mereka. Cakupan layanan ini meliputi area stasiun Commuter Line di Jabodetabek yang melayani jutaan pelaju setiap harinya, stasiun-stasiun kereta api di sepanjang Jawa Barat, Jawa Tengah, hingga Jawa Timur, serta pemukiman padat penduduk yang berada dalam radius jangkauan tiang di sepanjang rel. Selain itu, layanan ini juga mulai merambah fasilitas umum seperti pasar tradisional dan alun-alun kota di daerah tingkat dua dan tiga yang dilewati jalur serat optik tersebut, membawa akses digital ke jantung ekonomi kerakyatan.
Masyarakat dapat menikmati layanan ini dengan mekanisme yang sangat fleksibel melalui model bisnis freemium. Pengguna cukup mencari jaringan WiFi dengan nama “Internet Rakyat” atau “Surge” di perangkat mereka, lalu masuk melalui halaman login yang tersedia. Surge menawarkan opsi akses gratis dengan kompensasi menonton iklan video berdurasi tertentu, atau opsi berbayar melalui pembelian paket voucher harian maupun mingguan dengan harga mikro mulai dari ribuan Rupiah. Sistem ini dirancang agar pengguna tidak memerlukan pemasangan kabel rumit ke dalam rumah, cukup dengan menangkap sinyal dari titik akses terdekat layaknya menggunakan hotspot di kafe.
Dari sisi ekonomi, analisis perbandingan efisiensi biaya antara WiFi Internet Rakyat dan operator seluler konvensional menunjukkan potensi penghematan yang drastis bagi masyarakat. Dalam skema pembelian harian atau yang biasa disebut “ketengan”, pengguna seluler rata-rata menghabiskan sekitar Rp 7.000 hingga Rp 10.000 per hari untuk kuota terbatas yang memiliki batas pemakaian wajar (FUP). Sebaliknya, WiFi Internet Rakyat menawarkan akses tanpa batas (unlimited) dengan kisaran biaya hanya Rp 1.000 hingga Rp 3.000 per hari. Jika diakumulasikan dalam satu bulan, penghematan yang dirasakan masyarakat bisa mencapai angka 70 persen atau setara dengan memangkas beban pengeluaran komunikasi rumah tangga hingga ratusan ribu rupiah per bulan. Keunggulan utamanya terletak pada sifat true unlimited yang menghilangkan kecemasan pengguna akan kehabisan kuota di tengah aktivitas digital mereka.
Potensi penggunaan layanan ini melampaui sekadar kebutuhan hiburan. Kehadiran internet murah dan cepat ini menjadi katalisator bagi digitalisasi UMKM, di mana pedagang pasar dan warung kecil bisa beralih ke platform digital tanpa takut merugi akibat biaya kuota. Di sektor pendidikan, layanan ini membantu siswa di daerah pinggiran rel kereta untuk mengakses materi pelajaran yang membutuhkan bandwidth besar. Selain itu, infrastruktur ini juga mempermudah penetrasi layanan keuangan digital seperti QRIS di lapisan masyarakat yang belum tersentuh layanan perbankan, menciptakan ekosistem ekonomi yang lebih inklusif.
Namun demikian, calon pelanggan tetap perlu memahami risiko yang menyertai layanan WiFi publik semacam ini. Karena bersifat jaringan terbuka, aspek keamanan siber menjadi perhatian utama di mana pengguna disarankan untuk tidak melakukan transaksi perbankan vital tanpa perlindungan tambahan seperti VPN guna menghindari pencurian data. Selain itu, privasi data juga menjadi pertimbangan mengingat model bisnis yang mengandalkan iklan berpotensi mengumpulkan data perilaku pengguna. Tantangan teknis lainnya adalah ketergantungan pada lokasi dan kepadatan jaringan, di mana sinyal bisa menurun drastis jika terhalang tembok tebal atau saat jumlah pengguna di satu titik akses membludak pada jam sibuk.
Terlepas dari tantangan tersebut, Surge dengan WiFi Internet Rakyat-nya telah membawa narasi baru dalam industri telekomunikasi nasional. Inisiatif ini bukan hanya sekadar menjual koneksi internet, melainkan menawarkan harapan akan kesetaraan informasi. Bagi masyarakat di area jangkauan, layanan ini adalah alternatif cerdas dan efisien untuk menjembatani kesenjangan digital, membuktikan bahwa akses internet cepat kini bukan lagi privilese masyarakat kota besar semata, melainkan hak bagi seluruh rakyat.



