
Biofilm, komunitas mikroorganisme yang membentuk lapisan pelindung resisten terhadap antibiotik dan kontaminan pangan, kini menjadi salah satu tantangan serius bagi kesehatan masyarakat dan keamanan pangan. Untuk menjawab persoalan ini, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama mitra akademik dan internasional mendorong inovasi pengendalian biofilm melalui riset kolaboratif dalam wadah Pusat Kolaborasi Riset (PKR) Biofilm atau Indonesian Biofilm Research Collaboration Centre (IBRCC).
Hal ini diwujudkan melalui Focus Group Discussion (FGD) dengan tema ‘Outsmarting Biofilms: Novel Strategies for Antibiofilm Treatment and Foodborne Disease Control’ pada Senin (18/8). Forum ini menghadirkan mitra akademisi dalam dan luar negeri guna menyoroti tantangan implementasi riset skala besar, akses teknologi di negara berkembang, dan integrasi riset dengan kebijakan nasional.
Biofilm Bersifat Multidimensi
“Isu biofilm bersifat multidimensi tidak hanya ilmiah, tetapi juga sosial-ekonomi karena berdampak pada kesehatan masyarakat dan ketahanan pangan,” jelas Kepala Pusat Riset Teknologi dan Proses Pangan (PRTPP) BRIN, Satriyo Krido Wahono.
Melalui riset kolaboratif seperti PKR Biofilm, Indonesia dapat memanfaatkan kekuatan inovasinya untuk mengatasi tantangan global. “Dengan keanekaragaman biodiversitas Indonesia, kita bisa mengembangkan strategi antibiofilm berbasis lokal untuk pasar global,” ujarnya. Forum ini menjadi jembatan antara riset laboratorium dan penerapan di masyarakat, mendukung UMKM pangan, sekaligus memperkuat kolaborasi internasional
Penguatan Kolaborasi Nasional dan Global
Sejalan dengan itu, Ahmad Fathoni, Kepala Pusat Riset Mikrobiologi Terapan (PRMT) BRIN menyampaikan bahwa Pusat Kolaborasi Riset (PKR) Biofilm merupakan salah satu PKR yang aktif dalam berkegiatan. Ia berharap kolaborasi ini dapat terus berkembang dan semakin kuat, baik di tingkat nasional maupun global. “PKR Biofilm perlu mengagendakan untuk menjadi PKR internasional, agar kolaborasi ini terus tumbuh dan lebih kuat lagi,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Deputi Bidang Fasilitasi Riset dan Inovasi BRIN, Agus Haryono menyampaikan bahwa forum kolaborasi PKR selanjutnya akan dilaksanakan di Lombok, tepatnya di Pusat Riset Sumber Daya Perikanan Laut.
“Kami berharap isu biofilm dapat menjadi salah satu bahasan penting pada pertemuan besar PKR mendatang, termasuk output konkret dari masing-masing PKR. Saya juga menantikan proposal-proposal berkualitas dari para periset,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan bahwa BRIN saat ini mengelola sekitar 6.000 proposal per tahun, berbeda jauh dengan lembaga pendanaan di China yang menangani 500.000 proposal. “Sudah saatnya kita membiasakan diri mengolah ide menjadi proposal, berkompetisi secara sehat, dan menghasilkan riset berkualitas hingga ke tahap komersialisasi,” imbuhnya.
Kiprah PKR Biofilm dan Agenda Ekspansi
Ketua PKR Biofilm dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Titik Nuryastuti menegaskan pentingnya riset kolaboratif lintas sektor dan berkomitmen untuk memperkuat ketahanan kesehatan dan keamanan pangan nasional melalui riset kolaboratif tentang biofilm.
“Biofilm sebagai komunitas mikroorganisme resisten terhadap antibiotik dan kontaminan pangan, membutuhkan pendekatan lintas sektor yang melibatkan akademisi, industri, dan pemangku kebijakan,” ujarnya.
Ia memaparkan kemajuan PKR Biofilm yang dibentuk pada Maret 2022 dengan dukungan RISNOV BRIN, kini mencakup tiga kelompok riset utama: Biofilm-associated Infections, Drug Discovery, dan Biofilm Control and Food Safety. Menurutnya, kekayaan biodiversitas Indonesia sangat potensial untuk pengembangan strategi antibiofilm lokal dengan relevansi global.
Kolaborasi juga telah terjalin dengan berbagai institusi, seperti RS dr. Soeradji Tirtonegoro, UNSOED, UMKT, UNM, Udayana, UHO, UNJAYA, dan STIKES Maluku Utara. Kini, PKR Biofilm tengah menyiapkan ekspansi program berupa pengembangan prototipe riset inovatif dan peluncuran website IBRC sebagai pusat informasi kolaborasi.
Perspektif Global dan Dampak Pangan
Dalam kesempatan tersebut, dua pakar internasional turut hadir memberikan paparan. Mark Blaskovich dari University of Queensland, Australia, memaparkan ‘Imaging Bacteria and Biofilms.’ Ia menyoroti teknik pencitraan mutakhir untuk mengidentifikasi struktur biofilm guna pengembangan terapi tepat sasaran.
Sementara itu, Theerthankar Das Ashish Kumar dari Western Sydney University, Australia, menjelaskan topik ‘Develop Novel Antibiofilm Treatment Strategy.’ Ia menjelaskan pendekatan inovatif berbasis senyawa alami dan sintetis untuk mengganggu quorum sensing dan matriks biofilm, yang sering menyebabkan resistensi antibiotik. “Biofilm bukan hanya masalah medis, tapi juga ekonomi, karena meningkatkan biaya pengobatan dan kerugian industri,” katanya.
Biofilm terhadap Keamanan Pangan
Sementara itu, Periset Pusat Riset Teknologi dan Proses Pangan (PRTPP) BRIN Nodali Ndraha menekankan keterkaitan biofilm dengan penyakit bawaan makanan. “Sekitar 60% kasus foodborne disease di Indonesia terkait dengan kontaminasi biofilm pada peralatan pengolahan. Oleh karena itu, dibutuhkan transformasi protokol sanitasi dan desain peralatan untuk pencegahan,” tegasnya.
Sejalan dengan itu, Ema Damayanti, yang juga periset PRTPP BRIN, menambahkan bahwa pengendalian biofilm memiliki nilai ekonomi signifikan. “Tantangan utama adalah implementasi riset di skala besar, akses teknologi di negara berkembang, dan integrasi dengan kebijakan nasional,” tambahnya.
Untuk itu, BRIN menawarkan solusi melalui inovasi, seperti pemodelan infeksi biofilm, repurposing obat dengan molecular docking, dan deteksi in-situ biofilm di fasilitas pangan. “Nilai ekonomi dari pengendalian biofilm diperkirakan signifikan, mengingat dampaknya terhadap resistensi antibiotik global dan kerugian industri makanan,” tambah Ema.
Dengan adanya riset kolaboratif melalui PKR Biofilm, Indonesia diharapkan mampu memanfaatkan kekuatan biodiversitas dan inovasi sains untuk memberikan solusi nyata terhadap ancaman biofilm, baik dalam bidang kesehatan maupun ketahanan pangan.
Sumber: https://www.brin.go.id/news/124534/brin-dorong-inovasi-pengendalian-infeksi-biofilm-melalui-pusat-kolaborasi-riset



